Ahlan Wa Sahlan, Welcome At My SIte, Thank's For Coming

Pages - Menu

Jumat, 20 Mei 2016

THE FABULOUS UDIN “Si The Next Laskar Pelangi”


Bagi para penikmat novel, kalian pasti sudah tidak asing lagi ke karya sastra satu ini. Rons Imawan atau mungkin para pengguna twitter akan lebih akrab dengan akun @WOWKonyol dengan karya fenomenalnya “The Fabulous Udin”. 

Kali ini, novel ini diangkat ke layar lebar. Meski pada umumnya novel yang diangkat kelayar lebar banyak sekali perbedaan drastis, bahkan tidak jarang banyak alur cerita yang diubah. Tapi untuk karya satu ini, sangat recommended buat kalian yang rindu masa kecil, atau kalian yang sehari-harinya hana bermain dengan gadget.

Berlatar disebuah daerah kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Udin dan kawan-kawannya yang diperankan oleh Ajil Ditto (Udin), Bella Graceva Amanda Putri (Suri), Aldy Rialdy Indrawan (Ucup), Difa Ryansyah (Jeki), Zulfa Maharani (Inong), mengarungi kisah persahabatan mereka yang terjalin begitu indah dan berwarna.

Bermula dari kisah persahabat Udin, Jeki, Ucup dan Inong yang telah akrab sejak lama. Dikisahkah bahwa Udin merupakan sosok yang sangat genius. Segala permasalahan yang dihadapi akan terasa mudah saat ia turut andil dalam menyelesaikan masalah yang ada.

Jeki, merupakan sosok yang paling tajir diantara yang lain. Tapi lagi-lagi Udin berhasil membuat ia menjadi hidup sederhana. Cita citanya adalah menjadi sutradara terkenal dan hebat. Oh ya, dia juga ingin sekali memiliki seorang adik, meski sebenarnya ia telah memiliki adik, namun karena sebuah kejadian adiknya tertimpa musibah dan meninggal.

Ucup, merupakan seorang anak angkat yang  memiliki fobia dengan kerupuk. Heran. Tapi memang seperti itu dalam cerita. Hehe.... Oh ya, jangankan fobia kerupuk, fobia nasi aja ada.

Lanjut, sosok sahabat selanjutnya adalah Inong. She’s the only one girl Tapi dia tidak minder, tidak malu bahkan ia selalu bisa menjadi penengah diantara teman-temannya. Namun, diam-diam ia menyimpan perasaan kepada salah satu anak diantara Udin, Jeki, dan Ucup. Siapakah dia? Baca saja novelnya..... Hehehe....


Persahabatan mereka yang semula berempat, menjadi bertambah personel setelah mereka kedatangan teman baru di Sekolah yang berasal dari Jakarta. Namanya Suri. Dari awal perkenalannya di Sekolah ia sudah berhasil membuat teman-temannya heran. Dia juara pidato bahasa Inggris, Penggemar dongeng, Penggila sayembara, namun tidak mau dan paling membenci dikasihani karena alasan penyakitnya. Satu lagi yang mungkin masih belum disebutkan oleh Suri, sikap angkuhnya. Heheh.... Tapi sebenarnya dia adalah anak yang baik, dia seperti itu bukan karena dia angkuh melainkan ia tidak ingin dianggap penyakitan, lemah atau bahkan orang yang sudah meninggal.
Yes, I understand it.

 Kisah persahabatn mereka mengarungi lika liku kehidupan, dengan bumbu-bumbu sedih, pertengkaran hingga cinta menjadi pelengkap kisah ini. Bukan hanya alur cerita yang menarik, akan tetapi sang sutradara pun berhasil menyuguhkan pemandangan indah Indonesia ditepi pantai dengan gulungan ombaknya.

Adalagi, cerita yang disuguhkan tidaklah monoton. Penonton selalu dibawa masuk kedalam cerita, sehingga pesan yang disampaikan pun cukup merasuk kepada para penonton. Akting para pemain, serta kualitas gambar yang diberikan sangatlah luar biasa. Tidak dipungkiri bahwa film ini sebenarnya sangat layak untuk ditonton bagi semua pelajar, meski tetap harus didampingi oleh orang tua agar pesan yang disampaikan benar-benar dapat dipahami oleh penonton.

Jadi, untuk daerah yang saat ini masih diputarkan film satu ini. Sangat disayangkan jika kalian tidak menyaksikannya. Karena ini bukanlah film percintaan saja, tapi disini ada film pendidikan. Film adventure. And you can see how beautifull is Indonesia.

Rabu, 18 Mei 2016

Pesantren Kuno ?


Kata siapa menjadi santri itu kuno? Primitif? Hanya bisa mengaji tanpa masa depan yang jelas. Lulus dari Pesantren, hanya bisa mengajar di masjid, mushalla, atau surau-surau kecil yang gajinya tidak menentu? 

Saat ini, dunia Pesantren lebih maju dan berkembang. Bahkan jauh sebelum masa sekarang KH. Abdullah Sahal sebagai salah satu perintis Pondok Modern Gontor telah berfikir maju dan berkembang. Pesantren isn't just about studying religion, tapi Pesantren juga mendidik akan banyak hal. Character building seperti kemandirian, kreatifitas, hingga seni yang pada masanya jauh lebih maju dibanding Perguruan Tinggi sekalipun. 


Buktinya? Sejak pertama didirikan dalam kegiatan KBM semua santri diwajibkan menggunakan kemeja polos, sepatu pantofel dan bagi ustadznya harus menggunakan dasi. Terus? Masih kurang? 

Kami juga di didik hal-hal terkait seni dan kreatifitas. Terbukti setiap tahun kami memiliki agenda bernama Panggung Gembira (PG). Acara ini bukan hanya sebagai pertunjukkan seni semata, melainkan sebuah persembahan atas apa yang selama ini kita dapat. Teater, Musikal, hingga tari-tarian Indonesia kami persembahkan. 

Masih Kurang ? 



Setiap hari selama 24 jam kami diwajibkan menggunakan papan nama atau yang bisa kami sebut sebagai 'lauhah'. Hal ini bertujuan agar setiap santri saling mengena; dan mengetahui kelas ber
apa dan siapa namanya tanpa perlu bertanya. Bagaimana kita bisa tahu ia kelas berapa? Dari warna papan naman yang digunakan. Setiap kelas berbeda.

Oleh sebab itu, jika masih ada yang berfikir bahwa dunia pesantren adalah dunia kuno dan terbelakang maka itu salah besar. Pesantren bukan hanya sebagai sarana pendidikan agama, melainkan kemandirian, kreatifitas, hingga hal-hal sepele seperti sosialisasi kami diajarkan. 

Jadi jangan ragu untuk menimba ilmu di Pesantren, Because college is home, you can find anything there what you want.