Ahlan Wa Sahlan, Welcome At My SIte, Thank's For Coming

Pages - Menu

Minggu, 08 September 2013

Tiga Kunci Menggapai Impian

Pas lagi kecil, pasti paling sering ditanya sama orang dewasa, cita-cita kamu mau jadi apa?? Mulai jadi guru, dokter, polisi, tentara, presiden, dan bahkan ulama sering kita ucapkan dengan begitu polosnya. Entah tercapai atau tidak, hanya itu yang sering diucapkan oleh kita saat masih kecil.

Namun pernahkah terbesit dalam pikiran kita untuk mewujudkannya??. Atau karena beberapa faktor, kita melepaskannya begitu saja, terbang bersama angin entah kemana. Sungguh, itu merupakan hal yang sangat kita inginkan, karena pasti dalam hati paling dalam kita, terbesit keinginan untuk meraih cita-cita dan harapn tersebut.

Namun, apa saja yang harus kita lakukan untuk meraih cita-cita tersebut. Haruskah kita berkeliling dunia terlebih dahulu untuk meraihnya?. Tentu saya akan menjawab dengan tegas "TIDAK". Hanya dengan 3 kunci ini, maka insya allah, kita akan mampu meraih cita-cita kita.

1. Man Jadda Wa Jada ( Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka pasti ia akan mendapatkan )

Mas bro. Mbak sis. Didunia ini gak ada yang instan. Butuh usaha dulu. Lha wong kalo kita mau makan aja harus masak dulu, atau kalau males, seenggaknya harus jalan dulu ke warung nasi. Itu makan lho, apa meraih cita-cita kita. 

Pengen jadi dokter, guru, polisi, tentara, presiden, dan ulama pun
harus usaha dulu. Gak mungkin cuma pengen doank, trus langsung jadi. GAK MUNGKIN MAS.....

Allah juga menegaskan dalam kitab suci Al-Quran :

"Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri"

Makanya usaha dulu, belajar dulu yang rajin, kerja keras dulu baru bisa meraih apa yang dicita-citakan. Jadi, mulai sekarang usaha dulu, jangan cuma berharap trus langsung jadi, OK!!!!!!!


2. Man Shabara Dzafira ( Barangsiapa yang bersabar maka ia akan beruntung )
Baru capek aja kok udah loyo?? Baru banyak PR dan hapalan aja kok udah lemes?? Kerupuk mas yang kalo kena air langsung lembek, bukan kan ????

Hidup itu penuh lika-liku, gak ada yang lurus aja. Jalanan aja belok-belok, apalagi kehidupan ini, udah ada belok-belok, ada naik-turun juga, dan itu SUDAH PASTI.

Cobaan, sakit, hinaan, terjatuh dan lainnya yang menjadi penghalang kita meraih impian, itu adalah ujian, seberapa besar kita mampu melewatinya. 

Ibarat kata ya, kalau kita sedang duduk dibangku kelas 1SD, nah untuk naik kelas pasti ada ujian semster dulu baru bisa naik kelas, nah begitu pun dengan kehidupan ini, jika kita ingin mencapai harapan untuk menjadi dokter misalnya, pasti ada tes dan ujiannya dulu, dan gak mungkin langsung bisa menjadi dokter. Harus sekolah kedokteran dulu, belajar, tes, dan lainnya baru bisa jadi dokter.

Allah aja memotivasi kita dalam Al-Qur'an :

"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanalah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kami akan kembali kepadanya". Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk".

Makanya, ayo bangkit mas, jangan duduk aja dan terus pompa semangatnya, jangan baru gara-gara hal sepele aja udah langsung lembek. "SITU KERUPUK OPO MANUSIA MAS?"


3. Man Saara 'Ala Darbi Washala ( Barangsiapa yang berjalan diatas jalannya maka ia akan sampai (tujuannya) )


Allah itu udah punya takdir mas, mbak. Allah itu udah punya rencana untuk kita, jadi jangan takut rugi atau sia-sia terhadap apa yang telah kita lakukan, jika selama itu masih baik, atuh lanjutkan. 

Allah itu, lebih tahu apa yang terbaik untuk umatnya, khususnya bagi mereka yang telah berusaha keras, pasti Allah akan membantunya. Karna, belum tentu, apa yang menurut kita baik, menurut Allah buruk. Mungkin jika Allah mengabulkan doa kita, akan terjadi hal-hal yang sama sekali tidak pernah inginkan terjadi

Dan mungkin, apa yang menurut kita buruk namun menurut Allah baik, karna bisa membawa keberkahan kepada orang lain.


Di bawah ini merupakan sebuah kisah yang saya ambil dari seseorang yang sama sekali tidak ingin disebutkan namanya, semoga bisa bermanfaat apa yang telah diceritakan.


Sakura yang kutanam, Namun pohon harapan yang kudapatkan

Aku sama seperti kalian. Saat kecil, aku pun sering ditanya apa cita-citaku. Aku pun dengan semangat menjawab, PRESIDEN. Kenapa mau jadi presiden? Karna aku ingin menyejahterakan orang-orang sepertiku, orang yang hanya dipandang sebelah mata, dan hidup dalam kekurangan.

Saat kecil, aku hidup dalam kecukupan, setidaknya untuk biaya makan sehari-hari, dan biaya sekolah, itu cukup terpenuhi, meski terkadang harus menunggak atau bahkan sekedar berhutang. 

Aku sekolah di sebuah SDN dikampungku. Meski SDN, namun keadaannya berbeda dengan keadaan SDN di kota yang sekarang sering aku lihat. Jangankan lantai keramik, papan putih saja kami tidak punya. Kami masih menggunakan papan hitam sebagai media alat tulis kami, dan kapur tulis yang sering mengeluarkan debu menyesakkan, kami gunakan sebagai alat tulis kami. 

Namun meski begitu, untuk masalah semangat belajar, kami jangan diragukan. Bahkan, sekolah kami sering mendapatkan peringkat 10 besar dalam UN.

Namun seiring waktu berjalan, saat aku duduk dibangku kelas 6 SD, hal yang sama sekali tidak pernah terbayangkan terjadi dalam kehidupanku. Dan itu semua, datang disaat yang sama sekali tidak terbayangkan olehku. 

Saat aku sedang sekolah, sedang asyik berkutat dengan pelajar, Pak Tono datang ke kelasku dan meminta izin kepada guru saat itu, untuk bisa pulang lebih awal. Awalnya aku sama sekali tidak berpikir sampai sejauh yang akan terjadi, namun ternyata saat Pak Tono mengantarku sampai rumah, dengan cepat ia memelukku, dan mengatakan kepadaku agar bersabar. Aku yang saat itu masih kecil, hanya bisa bengong dan terdiam entah apa yang kupikirkan. Yang kulihat saat itu hanyalah bendera kuning, 

Aku pun dituntun oleh Pak Tono untuk masuk kedalam rumah. Didalam sana, aku melihat begitu banyak orang yang sedang membaca surat yasin dan tahlil di depan sosok berkain putih. Aku yang memang masih sangat polos, hanya bisa mengikuti apa yang dituntun oleh Pak Tono. Dan tidak lama, kain putih itu pun dibuka olehnya, dan ia mengatakan bahwa ayah dan ibuku telah pulang ke rahmatullah. Aku hanya bisa terdiam saat semua orang sedih dan menangis, diamku pun bukan karena aku tidak bersedih, melainkan aku tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.

Dan aku pun......


-( To Be Continued )- ^_^